Jangan Humazah dan Lumazah, Nanti Masuk Huthamah

maxresdefault.jpg


Beberapa hari lalu saya mendengar ceramah yang yahud menurut saya. Sang penceramah menjelaskan tentang arti dari surah ke 104 Al-Humazah. Penjelasannya sangat berkesan dan menambah wawasan buat saya.


Menurut beliau, melalui surah Al-Humazah, ALLAH memberikan peringatan pada kita agar tidak memiliki penyakit hati yang bernama Humazah dan Lumazah. Menurutnya, keduanya adalah penyakit hati yang erat kaitannya dengan harta.


Humazah adalah kondisi orang yang mengumpat ketika orang yang bersangkutan tidak berhasil mendapatkan harta. “Ini gara-gara kamu saya tidak mendapatkan kerja” atau “Karena kamu lelet, kita gak jadi dapet diskonan deh” dan lain sebagainya. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan umpatan dan selalu menyalahkan orang lain ketika dia tidak mendapatkan harta yang diinginkan.


Lain lagi dengan Lumazah. Adalah kondisi dimana ketika orang yang sedang dalam kondisi berpunya, dia sibuk dengan harta dan selalu merendahkan orang lain dengan kesombongannya. Hari-harinya hanya diisi dengan mengumpulkan harta dan menghitung-hitung harta saja. Dikepalanya hanya ada uang, uang dan uang. Dan dia sangat pelit tentunya. Begitu mendengar ini, saya langsung terbayang tokoh Gober Bebek yang ada dalam serial Donal Bebek. Wataknya kurang lebih sama.


Peringatan ALLAH terhadap dua penyakit ini tidak berhenti sampai sini. ALLAH dalam firmannya memperingatkan bahwa ada satu tempat untuk dua penyakit ini. Tempat ini bernama Huthamah. Adalah neraka yang panas dan berisi letupan-letupan api yang dahsyat. Ketika letupan ini mengenai kulit, maka hati si pemilik kulit yang justru terbakar. Bayangkan saking panasnya, hingga terkena letupannya saja, hati yang terbakar. Dan orang yang memiliki sifah Humazah dan Lumazah tadi dihukum dalam posisi digantung terikat dengan letupan-letupan api tadi yang menyambar.


Sebenarnya banyak yang disampaikan oleh ustadz tadi dalam ceramahnya. Namun pikiran saya terlanjur ingat dengan sebuah video ilustrasi dari bloomberg yang menggambarkan kebangkrutan Yunani di eropa sana.


retirement-age.png


Dijelaskan di sana bahwa salah satu penyebab Yunani bangkrut adalah soal gaya hidup. Rata-rata orang Yunani mulai berpikiran untuk pensiun sejak usia 45 tahun. Artinya sejak 45 tahun mereka sudah mulai pensiun. Karena pemikiran ini, orang Yunani cenderung banyak menghabiskan uang untuk ditabung untuk masa pensiun kelak. Ketika uang mengendap semakin banyak, maka perputaran uang akan semakin sedikit. Perputaran uang lambat menyebabkan ekonomi juga tumbuh lambat katanya.


zakat-dalam-islam-nur-fitri-iasha-zahra-1-728.jpg


Dari penjelasan video di atas saya berpikir, mungkin inilah tujuan dari yang namanya zakat. Zakat bisa dibilang menyisihkan sebagian harta kita untuk orang yang membutuhkan. Nominalnya tidak banyak, hanya 2.5% dari yang kita miliki. Hitungannya pun jelas. Ada batas minimum harta yang boleh dikenakan zakat. Namun jika ikhlas, berapa pun boleh dikeluarkan.


Sasaran zakat adalah mereka-mereka yang tidak berpunya. Dan buat mereka, ketika mendapatkan rejeki akan langsung dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan dan keperluan wajib mereka. Setidaknya tukang beras tetap laku dagangannya. Transaksi-transaksi dagang akan terjadi dengan sendirinya. Dan katanya, Indonesia memiliki potensi zakat sebesar 217 Triliun. Artinya duit segitu banyak bakal muter dengan lancar di Indonesia. Kalau mengikuti kata pakar, ekonomi kita setidaknya akan terus bergerak.


Ingat ya, jangan Humazah dan Lumazah, nanti masuk Huthamah. Dan jangan lupa zakat. Bukan hanya menegakkan ibadah. Tapi juga demi sesama.

Share on Google Plus

0 komentar :

Post a Comment