badge

Optimis! Indonesia Jadi Negara Ekonomi Digital Terbesar Pada 2020

Ilustrasi kegiatan digital - makambaonline.com
Indonesia yang dulu dengan Indonesia yang sekarang di mata para investor dunia sudah pasti berbeda. Dulu, Indonesia dikenal sebagai negara kelas 3 yang memiliki Sumber Daya Manusia yang lemah. Dan konon perusahaan-perusahaan multinasional atau penyandang dana asing itu, kalau ada bule yang dikirim ke Indonesia, pasti kelas 3. Alias yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu rajin.


Dan memang harus diakui bahwa pada tahun 80 dan 90an, kita masih fokus dengan program padat karya. Yaitu lapangan pekerjaan kasar yang penting banyak sehingga banyak menyerap tenaga kerja. Inilah kemudian yang menjadikan kesan kalau Indonesia ini penduduknya banyak tapi kurang berkualitas orang-orangnya, karena padat karya pasti hanya mengandalkan fisik. Dikesankan padat karya kurang intelek.

Sementara zaman yang bergerak maju juga diikuti teknologi yang selalu memburu. Termasuk salah satu yang popular adalah hadirnya teknologi web 2.0. Yang mengenalkan adalah Tim O’Reilly dan Dale Dougherty pada O’Reilly Media Web 2.0 Conference. Menurut mereka, web 2.0 tidak mengacu pada update teknologi. Melainkan pada bagaimana halaman tersebut dibuat.

Seperti yang diketahui, bahwa versi sebelumnya untuk web yang kemudian disebut web 1.0 hanya berbentuk status dan harus selalu diedit halamannya dalam bentuk html. Artinya pada web 1.0 itu setiap page, pasti memiliki file digitalnya. Berbeda dengan web 2.0 yang merubah cara dalam membentuk halaman. Mereke menyebutnya dengan nama user generated content.

Lantas apa hubungannya padat karya dengan teknologi web 2.0?

Teknologi jelas-jelas merubah tatanan global secara ekonomi. Seperti dijabarkan di atas, Indonesia dipandang rendah karena kurang memiliki kualitas Sumber Daya Manusia. Tapi sekarang dipandang sangat baik karena memiliki potensial dengan jumlah penduduk yang banyak. Dan sekarang, berharganya sebuah produk ditandai dengan berapa banyak orang atau individu yang menggunakan produk tersebut.



Ilustrasi Facebook - snopes.com
Facebook mungkin bisa dijadikan contoh betapa berharganya produk digital yang satu ini. Lihat betapa Facebook mendapat investasi yang besar karena pertumbuhan penggunanya begitu seksi dan menjanjikan. Walaupun Facebook sendiri sudah memberikan konsep yang luar biasa untuk diberikan investasi sebesar $500.000 dari Peter Thiel.

Tabulasi pertumbuhan pengguna facebook - wikipedia
Pengguna produk digital sekarang ini sudah seperti mata uang untuk menentukan berapa kira-kira harga sebuah produk digital. Facebook, Twitter, Instagram dan produk digital lain sudah menjadi contoh betapa total pengguna dijadikan tolak ukur betapa berharganya produk tersebut. Dan tentu saja, kalau penggunanya banyak, nanti akan berkembang lah model bisnis mereka. Facebook misalnya dengan Facebook Ads.

Kembali ke Indonesia.

Sudah bisa dibayangkan, karena pengguna menjadi tolak ukur. Maka produk-produk digital tersebut berlomba-lomba mengekspansi negara-negara dengan penduduk besar di dunia. Termasuk Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang fantastis di dunia. Mereka-mereka si produk digital ini benar-benar menganggap Indonesia tempat yang layak untuk investasi. Tidak percaya? Lihat saja perwakilan-perwakilan raksasa produk digital ini main ke Indonesia.

Bill Gates pada Maret 2014
Mark Zuckerberg pada Oktober 2015
Sergey Brin pada Desember 2015

____________________________________

Indonesia yang sudah jelas-jelas seksi dan punya potensi sangat besar dalam hal produk digital tentu harus berbenah untuk dapat menikmati keunggulannya, setidaknya ada 2. Berbenah yang pertama, baiknya Indonesia memiliki produk digitalnya sendiri agar bisa mengelola dan menikmatinya. Maka tidak heran banyak produk-produk digital asli Indonesia bermunculan. Dan bukan hanya produk digital bermunculan, tapi juga Indonesia secara sadar ataupun tidak seperti sedang bergelut untuk memacu para generasi muda untuk membuat produk digital. Istilahnya startup.

Beberapa yang popular :



  • GoJek : Ini Unicorn pertama di Indonesia. Jeli melihat peluang, Nadiem merubah image tukang ojek menjadi lebih bermartabat. Sekarang Gojek punya banyak sekali cabang bisnis yang jauh berbeda dengan yang awal muncul. Bahkan bisa memanggil ahli makeup untuk datang ke rumah.
  • Tokopedia : Salah satu marketplace terbesar di Indonesia. Bernuansa hijau dengan logo burung hantu.
  • Bukalapak : Salah satu marketplace terbesar di Indonesia. Tidak memiliki logo, hanya nuansa merah maroon dengan tulisan bukalapak yang naik turun.
  • YesBoss : Layanan asisten pribadi berbasis SMS.
  • eFishery : Penyedia solusi teknologi untuk pengelolaan kolam ikan komersil. Produk eFishery adalah alat pemberi makan otomatis yang dapat dipasang di kolam.
  • Jualo : Ini semacam iklan baris yang langsung head to head dengan OLX.
  • Fabelio : Sama seperti Tokopedia dan Bukalapak, Fabelio juga adalah marketplace. Hanya saja Fabelio fokus pada produk-produk furniture.
  • HijUp : Fashion e-commerce ini sudah bisa ditebak barang-barang apa saja yang ada di dalamnya. Fashion muslim semakin dilirik karena semakin banyaknya muslim yang mulai senang mengenakan busana muslim.
  • Kudo : Bisa dibilang hamper sama dengan e-commerce lain. Bedanya Kudo benar-benar menjempatani antara dunia nyata dan virtual. Menyimpan mesin-mesin belanja online di mall-mall atau pusat keramaian. Tapi sekarang Kudo bergerak dengan agen Kudo.
  • Bridestory : Startup yang fokus pada orang-orang yang sedang merencanakan pernikahannya.
  • Traveloka : Bisa dibilangn ini tempat beli tiket perjalanan dan hotel terbesar di Indonesia.

Itulah kira-kira beberapa produk digital Indonesia yang sekarang dikenal. Masih banyak yang lain yang belum disebut. Karena pasti sekarang pun sudah ada beberapa yang lain yang sedang mencoba untuk hidup atau mungkin bertahan hidup.

Tidak mungkin para pelaku produk digital di atas memulai bisnisnya tanpa melihat target market yang ada di Indonesia. Mungkin sudah dipetakan. Mungkin juga belum. Tetapi yang jelas, pertumbuhan mereka atau setidaknya para produk digital di atas bertahan hingga sekarang tentu karena masih banyak pengguna yang menggunakan jasa mereka.

Berbicara soal pengguna produk digital, tentu tidak bisa lepas dengan pertumbuhan pengguna Internet. Dan ini masuk ranah bebenah kedua, Meningkatkan sebaran pengguna internet di Indonesia. Pada awal 2017 lalu tercatat bahwa total pengguna internet di Indonesia mencapai 132.7 juta orang. Tapi, angka tersebut jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang 262 juta orang, maka pengguna internet di Indonesia baru mencapai 51%. Artinya masih ada 49% potensi pasar digital di Indonesia.

49% persen dari 262 juta orang itu bukan angka yang sedikit. Jadi, sangat wajar jika para pelakon produk digital itu masih sangat optimis dengan pertumbuhan produk yang mereka miliki. Dan tentu saja, para investor juga sepertinya masih haus mencari produk digital yang potensial untuk diberikan suntikan dana. 




Potensi yang sudah jelas tersebut tentu harus diwujudkan. Jadi tidak heran juga begitu banyak investasi masuk untuk mewujudkan internet cepat dari internet service provider. Salah satu yang turut berperan adalah CBN. Dengan campaign yang diusung dengan tajuk CBN Digital Nation, yang merupakan ajakan masyarakat Indonesia untuk menyongsong kehidupan di era digital yang lebih baik.

Jelas lebih baik lah, karena CBN ini menghadirkan internet cepat dengan teknologi Internet Fiber. Targetnya sendiri adalah 500 ribu jaringan internet dengan teknologi fiber optic dengan kecepatan up to 1GBPS di area perumahan di wilayah Jawa Barat. Dengan koneksi internet cepat, tentu memudahkan penggunanya untuk lebih mudah mengakses informasi lebih cepat, upload barang dagangan di toko online lebih cepat, belanja online lebih cepat, dan lain sebagainya.

Tidak berhenti dengan hanya menawarkan internet cepat saja, CBN juga menawarkan produk IPTV dengan nama Dens.TV. Dens.TV ini menawarkan ragam kemudahan untuk menyimpan film offline, tonton yang sudah tayang 7 hari ke belakang, dan lain-lain. Tapi yang paling keren, ada juga aplikasi Androidnya. Jadi, bisa ditonton juga melalui layar smartphone kapan saja dan di mana saja. Untuk aplikasi Androidnya bisa dicomot dari sini.

Kembali lagi ke pada optimisnya Indonesia menjadi salah satu negara ekonomi digital pada 2020. Kalau semakin banyaknya penduduk Indonesia yang tersambung internet, maka negara ekonomi digital terbesar pada 2020 bukan isapan jempol belaka. 2020 optimis pasti terwujud. Ekosistem sudah ada, provider semakin gerak cepat menyebar fiber optic. Dunia digital semakin mudah dan murah diakses, maka semakin banyak yang berperan. Kalau sudah banyak yang berperan, tentu makin mudah diwujudkan.

Semoga terwujud.
Share on Google Plus

0 komentar :

Post a Comment