badge

Ernest, Sentilan Keadaan Sosial Di Mata Keturunan Tionghoa

Potongan poster Ngenest - marketeers.com
Bener-bener deh gara-gara satu karya bisa nempel ke karya-karya yang lain. Ya setelah nonton The Underdogs langsung cari-cari lagi karya Ernest di Iflix. Ini film pertamanya yang diangkat dari buku yang ditulisnya sendiri tentang hidupnya sendiri, hidup di Indonesia sebagai seorang minoritas Tionghoa.

Bisa dibilang era ketika film ini muncul tahun 2015 lalu kita sudah punya pondasi yang keren. Setelah Gusdur sang presiden mendobrak tatanan dan pelan-pelan minoritas mulai diterima. Ya walaupun masih ada yang mencibir sih.

Dan film Ngenest ini mengambil setting orde baru tentunya, dimana kaum minoritas Tionghoa begitu didiskriminasi dan Ernest muda (SD dan SMP) merasakan hal tersebut. Trauma yang mendalam yang dialami oleh Ernest muda ini membuat dirinya bertekad sepenuh hati untuk mencari pasangan orang pribumi asli. Berharap agar keturunannya kelak tidak Tionghoa dan dibully seperti yang pernah dialami dirinya.

Makanya begitu kenal Meira di tempat les Bahasa Mandarin saat kuliah, dikejar mati-matian. Apalagi setelah tahu kalau Meira ini ternyata seiman. Ya makin semangat ngejar-ngejarnya.

Meira bersama ayah dan ibunya - muvilla.com
Ada tantangan tersendiri mendekati keluarga pribumi. Terlebih ayah Meira ini pernah ditipu oleh orang Tionghoa pulak dalam berbisnis. Jadi, ya proses meyakinkannya lumayan panjang. Belum lagi Ernest ditanya soal sunat. Agak nyeleneh emang.

Sukses mendapatkan restu dari mertua dan akhirnya menikah, Perjuangan Ernest tidak berhenti sampai di situ. Dia masih takut dengan anak yang dilahirkan, apakah berwajah pribumi atau oriental. Karena takutnya itu makanya Ernest menunda-nunda punya anak dan selalu pakai kondom. Padahal Meira dan segenap keluarga besarnya menanti momongan dari Ernest.

Bisa ditebak lah ya Ending dari film ini. Anaknya brojol dan Ernest berhasil melewati ketakutan terbesarnya. Karena ada filosofi tokay yang sering dikatakan oleh Patrick. Hidup ya mengalir aja kayak Tokay. Simple!

Udah gitu aja.
Share on Google Plus

0 komentar :

Post a Comment